Kehadiran Artiste ini makin melengkapi portofolio
bisnis resto yang dikelola CT Corporation. Selain Artiste yang berada di
bawah bendera PT Trans F&B Services, CT Corp. juga mengelola 56
gerai Coffee Bean & Tea Leaf (PT Trans Coffee) dan 219 gerai Baskin
Robbin’s (PT Trans Ice).
Nah, yang menarik, bisnis resto dan kafe milik
Chairul Tanjung ini tak bisa dilepaskan dari figur Steen Puggaard. Pria
asal Denmark ini merupakan “chef” yang meramu konsep dan strategi pengembangkan bisnis kuliner CT Corp., termasuk Artiste. “Artiste akan menjadi tempat hang outkalangan
menengah-atas. Kehadiran kafe ini bagian penting dari transformasi
Bandung Supermall menjadi kawasan destinasi belanja hiburan dan
kuliner,” tutur CEO PT Trans F&B Services ini.
Siapa Steen Puggaard? Ayah dari Ella (empat tahun)
dan Theis (satu tahun) ini merupakan orang yang sarat pengalaman di
bisnis resto. Puggaard pernah berkarier di jaringan resto cepat saji
McDonald’s selama 9 tahun. Berbagai posisi di McD pernah dia tempati. Ia
pernah menjabat Manajer Komunikasi & Pemasaran Senior McD Eropa
Tengah & Asia Tengah. Tiga tahun kemudian ia menjabat Direktur
Pemasaran Zona McDonald’s Corporation hingga naik ke posisi Direktur
Pemasaran. Dari McD lalu ia pindah ke Burger King, menempati posisi yang
sama dan kemudian sempat hengkang ke Lazy Gourmet dengan posisi
Direktur Pengelola.
Di Lazy Gourmet inilah Puggaard mengaku mulai membangun jaringan dengan dunia kuliner internasional. Ia pun membuka resto fine dining di Singapura yang membawanya berkenalan dengan banyak pebisnis kuliner dunia. Dari sini pula ia mengenal Chairul Tanjung.
Kepiawaian Puggaard mengelola bisnis McDonald’s dan
Burger King di wilayah Asia Pasifik dan juga pengalamannya mengelola
resto waralaba, rupanya memikat hati bos CT Corp. “Pak Chairul
menawarkan suatu tantangan kepada saya untuk mengelola salah satu unit
bisnisnya, yakni bisnis F&B,” ungkap Puggaard, yang didapuk
mengomandani bisnis kuliner CT Corp. sejak Mei 2011.
Menurut anggota Danish BusinessAssociation of
Singapore ini, Chairul meminangnya karena ia dianggap mumpuni soal
sistem resto waralaba, serta memiliki kemampuan di bidang pemasaran dan
penjualan. Diklaim Puggaard, ketika di Singapura, ia memang banyak
belajar hal yang menyangkut strategi perusahaan di bisnis kuliner,
seperti bagaimana membuat strategic plan, consumer insight, pengembangan merek, pemasaran terpadu, hingga riset pemasaran dan manajemen krisis.
Lantas, apa target yang dibebankan kepadanya? “Do focus. We’re thinking to growth, growth and growth,” ujarnya tegas. “Semuanya berangkat dari visi founder untuk menjadi nomor satu di industri ritel F&B.”
Untuk kafe Artiste, misalnya, setelah di Bandung,
akan dibuka di Makassar dan Jakarta. “Lima tahun ke depan target kami
memiliki 12 merek di bisnis F&B,” kata alumni Copenhagen Business
College dan Copenhagen Business School ini.
Kepiawaian Puggaard mengelola bisnis resto diakui
Swasti Atika, Manajer Pemasaran Coffee Bean. Bosnya itu dinilainya
memiliki wawasan luas soal industri waralaba resto dan jago membuat strategic plan
yang apik. “Walaupun baru mengenal beberapa bulan, saya sudah bisa
mengenal gayanya memimpin. Beliau orangnya detail dan menjunjung kerja
sama tim,” ujar Swasti.
Menurut wanita yang sempat berkiprah di Hotline
Agency dan Lee Cooper ini, bosnya itu tak sungkan menghampiri meja
karyawan untuk membahas atau mempelajari suatu hal yang belum ia
ketahui. “Ketika membahas masalah strategi pun ia tak sungkan
menghampiri kami untuk membahas bersama penyusunan strateginya, ” ujar
Swasti memuji.
No comments:
Post a Comment